Friday, October 9, 2015

MENUHANKAN EGO KITA

TERNYATA EGO ADALAH TUHAN KEBANYAKAN KITA
Oleh: Imam Suhadi

Tauhid berasal dari kata ahad, yang artinya satu. Secara harfiah tauhid berarti pengesaan Allah Subahanahu wa ta’ala.
Apa maksud pengesaan Allah Subahanahu wa ta’ala?
Maksudnya adalah menjadikan Allah satu-satunya Tuhan, tidak ada tuhan yang lain. Hal ini sangat terkait dengan syahadat kita *laa ilaha ilallah*, tidak ada Tuhan selain Allah.
Banyak orang berpikir bahwa tuhan-tuhan selain Allah hanyalah seperti patung-patung, berhala, dan sejenisnya. Padahal sesungguhnya tidak. Bagi kebanyakan manusia, kata Ibnu Arabi, tuhan terbesar manusia adalah hawa nafsunya sendiri.
Pantaslah jika Allah bersabda dalam ayat-ayat berikut:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” ~ QS 45 – Al Jaatsiyah : 23 ~ 
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalan nya” ~ QS 25 - Al-Furqaan : 43-44 ~
Dari ketiga ayat tsb dijelaskan bahwa akibat kita tanpa sadar menjadikan hawa nafsu kita sebagai tuhan kita, mata dan pendengaran hati (jiwa/qalbu) kita menjadi tertutup, sehingga menjadi tersesat dari ash-shirat (jalan yang lurus). Orang yang tertutup mata dan pendengaran hati (jiwa/qalbu)nya, dalam ayat yang lain disebut sebagai orang-orang yang kafir.
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”. 
~ QS 2 - Al-Baqarah : 6-7 ~
Sedikit sekali orang - mungkin termasuk kita - yang tidak menyadari ini. Karena lahir dan besar dari keluarga muslim, kita ke-geer-an menyangka diri kita adalah orang-orang yang ber-iman, dan menganggap orang di luar itu yang kafir. 
Padahal dari ayat itu seharusnya kita berpikir: “Wah, boleh jadi saya ini masih kafir, dan yang dimaksud ayat ini adalah diri saya sendiri“.
Sahabat-sahabat,
Karena kita menyangka kita beriman, maka kita selalu menganggap ketika al-Quran berbicara tentang orang-orang kafir, bukan untuk kita. Tetapi untuk orang lain. 
Akibatnya pesan-pesan yang sebenarnya Allah tujukan untuk kita, tidak dipahami sama sekali oleh kita. Iman dan kafir itu ibarat terang dan gelap. Diantara terang dan gelap ada demikian banyak gradasi terang dan gelap. Sangat mungkin di dalam diri kita ada keimanan 10%, namun bercampur dengannya ada 90% kekafiran. Semakin kita menjadi hamba hawa nafsu kita, maka semakin meningkat kakafiran dalam diri kita.
Sahabat-sahabat,
Hawa nafsu atau sering juga disebut sebagai ego, banyak jenisnya. Sombong, kikir, iri dengki, marah dan dendam, malas, serakah, adalah beberapa bentuk dari hawa nafsu tersebut. Karena itu agama mengajarkan kita untuk mengendalikan sifat-sifat tersebut. Karena mengikutinya akan merusak syahadat kita. Akan menghancurkan tauhid kita.
Lihatlah diri kita. Betapa sering kita merasa sombong, marah-marah tanpa alasan yang jelas, kikir, iri dengki, berkeluh kesah? Hampir tiap waktu kita selalu diisi oleh sifat-sifat tersebut. Tanpa sadar, posisi Allah sebagai tuhan dalam diri kita sudah digantikan oleh hawa nafsu kita. Walaupun secara lahiriah nampak shalih, rajin shalat, baca Al Quran, namun sesungguhnya tidak akan banyak bermakna jika kita tidak menyadari bahwa kita harus menyingkirkan tuhan-tuhan hawa nafsu dari masjid hati kita.
Nah, tauhid sesungguhnya adalah ilmu yang bertujuan untuk memurnikan syahadat kita. Meneguhkan bahwa hanya Allah satu-satunya tuhan bukan hawa nafsu kita.
Sahabat-sahabat,
Seluruh tuntunan lahiriah dan bathniah agama kita, sesungguh nya adalah jalan yang diberikan untuk menyempurnakan tauhid kita. Dan sesungguhnya tauhid yang semakin menyempurna inilah yang diharapkan oleh Allah Subahanahu wa ta’ala.
Orang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Wahai Rasulullah! Amalan apa yang paling baik? Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “ilmu mengenai Allah!”. Bertanya pula orang tersebut: “Ilmu apa yang engkau kehendaki?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Ilmu mengenai Allah”. Berkata orang itu lagi: “Kami menanyakan tentang amal, lantas engkau menjawab tentang ilmu”. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Bahwasannya sedikit amal adalah lebih bermanfaat dengan disertai ilmu mengenai Allah. Dan bahwasannya banyak amal tidak bermanfaat bila disertai kebodohan mengenai Allah Ta’ala (HR Ibnu Abdil Birri)
Hadits di atas sangat menarik sekali. Seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang sebuah amalan, namun dijawab oleh Nabi malah ilmu tentang Allah. Kenapa demikian? Karena memang sesungguhnya muara seluruh ilmu dan amal kita adalah untuk kita semakin *mengenal Allah*.
Mengenal Allah tidak akan pernah dapat kita lakukan dengan membaca buku. Walaupun seribu kitab kita baca, tidak akan pernah membuat kita mengenal Allah kalau kita tidak "menjalaninya". Ilmu dari kitab-kitab hanyalah panduan dasar, namun pengenalan baru akan dapat terjadi ketika kita melaksanakan panduan tersebut.
Seperti berenang. Belajar dari buku atau video tentang bagaimana cara berenang tidak akan pernah membuat kita bisa berenang. Kita harus terjun ke kolam, merasakan bagaimana gerakan tangan kita, merasakan gerakan kaki kita, lambat laun akan menyebabkan kita bisa berenang.
Demikian pula dgn ilmu tauhid. Walaupun kita belajar buku-buku tentang tauhid, ikut kuliah dan ceramah secara rutin, hal ini tidak akan pernah mengantarkan kita kepada pemahaman sejati tentang tauhid kalau kita tidak selami. Kita harus benar-benar menyelami, untuk dapat memahami tauhid.
Bagaimana cara menyelaminya?Sebenarnya Al-Quran sudah memberikan panduan yang utuh tentang hal ini. Namun karena sebahagian besar kita tidak memahami struktur informasi Quran, kita sering kebingungan sendiri membaca Quran. Quran nampak seperti kitab yang rumit dan sulit dipahami.Cara pertama seperti yang dikatakan dalam QS 3 - Ali Imran:7 laksanakan saja apa-apa yang muhkamat dari al-Quran, baik yang sifatnya lahiriah ataupun bathiniah.Nah, disini masalah. Kebanyakan kita hanya beragama secara lahiriah. Yang bathiniah diabaikan. Padahal kalau mau menyelami dengan baik, maka kedua-duanya harus kita tekuni.
Lihatlah betapa banyak orang yang sangat rajin shalatnya, jamaahan tidak pernah tertinggal, puasa senin kamis selalu dilaksanakan, namun hari-harinya diisi dengan keluh kesah dan kebencian? Sekiranya kita menjalani semua tuntunan lahiriah dan bathiniah yang ada di dalam al Quran, percayalah bahwa sedikit demi sedikit tauhid kita akan mengalami penyempurnaan.
Aamiin ya Rabbal’aalamin

No comments:

Post a Comment